Kamis, 03 November 2022

Ruang lingkup kimia

 Mari kita berkenalan dengan ilmu kimia😊

    Ilmu kimia merupakan imu yang kita butuhkan dalam menangani suatu hal, bahkan dalam kehidupan sehari-hari kita juga menjumpai ilmu kimia, seperti sabun, limbah organik dan anorganik, shampo dsb. 

    Pembahasan lebih lanjut kita akan memperkenalkan ruang lingkup kimia terlebih dahulu.
Pengertian ruang lingkup kimia secara singkat ilmu kimia adalah ilmu rekayasa materi yaitu mengubah suatu materi menjadi materi lain. Sedangkan secara lengkap ilmu kimia adalah ilmu yag mempelajari tentang :
1. Suatu Materi yaitu suatu materi yang mencangkup komponen-komponen pembentukan materi dan perbandingan tiap komponen tersebut.
2. Struktur Materi yaitu mencangkup struktur partikel partikel penyusun suatu materi atau menggambarkan bagaimana atom - atom penyusun materi tersebut saling terikat.
3. Sifat Materi yaitu mencangkup sifat fisis (wujud dan penampilan) dan sifat kimia. Sifat suatu materi dipengaruhi oleh susunan dan struktur dari materi tersebut.
4. Perubahan Materi yaitu perubahan fisika/fisis (wujud) dan perubahan kimia (menghasilkan zat baru)
5. Energi yang menyertai perbahan materi yaitu menyangkut banyaknya energi yang menyertai sejumlah materi dan asal usul energi tersebut.

    Ilmu Kimia dikembangkan oleh para ahli kimia untuk menjawab pertanyaan "apa" dan "mengapa" tentang sifat materi yang ada didalamnya. Pegetahuan yang lahir dari upaya untuk menjawab pertanyaan "apa" merupakan suatu fakta yaitu sifat-sifat materi yang diamati oleh setiap orang akan menghasilkan pengetahuan deskriptif, sedangan pengetahuan yang lahir dari upaya untuk menjawab pertanyaan "mengapa" suatu metri memiliki sifat tertentu yang akan menghasilkan pengetahuan teoritis.

    Apakah pengetahuan ilmu kimia ini ditemukan secara serta merta begitu saja? Tentu saja tidak, ilmu kimia didapatkan atau diperoleh itu melalui beberapa tahap pengelolaan oleh seorang ahli. Diantaranya sekema pengembangan ilmu kimia sebagai berikut



   

 Setelah kita mengetahui pengertian kimia dan ruang lingkup kimia begitupun dengan proses mendapatkan ilmu kimia, lalu apa yang kita dapatkan setelah mempelajari hal tesebut? Tentu akan membawa banyak manfaat diantaranya :

1. Pemahaman kita menjadi lebih baik terhadap alam sekitar dan berbagai proses yang berlangsung didalamnya.
2. Mempunyai kemampuan untuk mengolah bahan alam menjadi produk yang lebih berguna bagi manusia dan sekitarnya.
3. Membantu kita dalam rangka pembentukan sikap.

Nah, dengan materi diatas semoga kita dapat menjadi kimiawan yang dapat mentransformasikan masa depan dengan labih baik dengan tetap mempertahankan keindahan lingkungan.

Kamis, 09 Desember 2021

MEMAHAMI EPISTEMOLOGI ISLAM DALAM PENDIDIKANDIKAN

 MEMAHAMI EPISTEMOLOGI ISLAM DALAM PENDIDIKAN

Oleh : Lu’lu’atul Munawaroh


Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kemajuan dan pemikiran para pemuda sebagai penerus bangsa. Dalam hal ini para pemuda di berikan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dapat di aplikasikan dalam lingkungan masyarakat. Ilmu pengetahuan yang dapat diterapkan khususnya ilmu filsafat yang banyak orang telah beranggapan bahwa jika seseorang mempelajari ilmu filsafat dapat membuat ia kafir dan sebagainya. Hal ini wajar karena dalam ilmu filsafat banyak sekali tokoh filsuf yang mengajarkan teorinya tanpa melibatkan Tuhan. Para tokoh filsuf ini hanya berprinsip pada apa yang sudah ia teliti. Ia hanya mempercayai apa yang telah dilihat, dirasakan, dan pengalaman yang telah ia lakukan.

Pendidikan modern yang telah ditetapkan bersama menyatakan bahwa pendidikan adalah proses transfer informasi yang tidak mengandung nilai spiritual. Kemudian banyak literature yang menyatakan bahwa filsafat tidak bisa memisahkan antara ilmu pengetahuan dengan proses penyempurnaan jiwa manusia. Dengan ini seorang filsuf islam bernama Ibnu Sina menyatakan bahwa dorongan untuk belajar sebenarnya bersumber dari kecenderungan jiwa manusia untuk mengenal segala sesuatu dan proses yang secara simultan mengekspresikan gerak dari jiwa untuk terubung dengan realitas sebagai kenyataan tertinggi dan absolut . Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan filsafat islam menyambungkan jiwa manusia dengan jiwa tertinggi yaitu al-Wujud. (Tuhan)

Namun, hal ini berbeda dengan ilmu pengetahuan yang dikembangkan di Barat yang sangat berpengaruh pada realisanya (profane), sehingga memunculkan berbagai aliran pemikiran dan ideologi yang bertentangan dengan semangat kerohanian (spirituality). Karakter epistemologi barat lebih memberikan perhatian pada dunia material tanpa mempertimbangkan abstrak, karena metodologinya menghilangkan istilah realitas menjadi objek individual. Dengan ini sebagian ilmuwan berpikir bahwa entitas di alam semesta ini benar-benar sendiri, individual dan tidak saling membutuhkan satu sama lain. Tetapi seiring berjalannya waku hal ini di kembangkan oleh para ilmuwan muslim yang terdapat pada Studi Keislaman yang menggunakan epistemology barat dengan mengingkari realitas transenden (realitas yang diluar kemampuan manusia biasanya) secara eksesif. Sebagai seorang yang umum hal ini menjadikan sumber dari berkembangnya teknologi, sehigga ia harus menganut epistemologi barat jika ingin mengalami perkembangan teknologi yang ada. Tetapi para ilmuwan islam tidak langsung begitu saja mengikuti alur karena ia masih mempunyai pedoman atau prinsip-prinsip epistemologi islam yang digunakan. Agar kita bisa memilih antara yang dapat digunakan untuk pedoman yang benar atau salah kita harus mengetahui terlebih dahulu mnegenai epistemologi yang berlaku. 

Apa yang dimaksud dengan epistemologi?

Epistemologi merupakan suatu materi yang berhubungan dengan terjadinya pengetahuan, kesahihan atau kebenaran pengetahuan. Hal ini menjadi perhatian para ahli filsafat dalam mencari sebuah kebenaran yang menggunakan cara pandang berbeda-beda menurut para filsuf masing-masing. Bukan hanya pemahaman yang berbeda tetapi juga bahasa yang digunakan dan substansi yang yang menjadi pusat pehatian filsuf. Hal ini yang dapat memunculkan perbedaan epistemologi islam dengan epistemologi barat yaitu, 

  • Epistemologi barat mengungkapkan teori pertama kali mengenai tentang pengetahuan dan cara mendapatkannya. Tujuan utamanya untuk mencapai sebuah pengetahuan. Dalam hal ini epistemology barat membedakan antara subjek dan objek yaitu orang yang melakukan pengamatan dan objek yang di amati.
  • Epistemologi islam dipandang sebagai instrumen rasional untuk memahami realitas yang tidak dapat dipisahkan dengan subjeknya sendiri. Tujuannya untuk menemukan kondisi yang memungkinkan bagi manusia untuk dapat terhubung dengan pengetahuan. Bukan sekedar mencapai pengetahuan tetapi menjadi jalan untuk mengetahui sejauh mana potensi manusia untuk memperoleh pengetahuan.

Apa yang dimaksud dengan pengetahuan? Darimana asalnya? 

Pengetahuan merupakan suatu objek atau ilmu yang berasal dari teori maupun pengalam yang sudah pernah dilakukan. Menurut Al-Farabi pengetahuan bukanlah objek – objek material seperti kaum empirisme (filsafat berbasis pengalaman), juga bukan rasio semata paham kaum rasionalisme(filsafat berbasil akal), melainkan intelek aktif (akal aktif) yang menjadi sumber pengetahuan, sebab intelek inilah yang membuat suatu yang universal dan sederhana menjadi sesuatu yang aktual dan dapat mendorong intelek potensial (watak) untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. 

Jika di kaitkan dengan alam seperti mata sebagai intelek potensial dalam kegelapan yang membutuhkan cahaya matari sebagai intelek aktif untuk menjadikan penglihatan yang aktual, sehingga objek yang dilihat oleh mata benar-benar terlihat nyata. Kemudian matahari memungkinkan mata melihat bukan hanya pada objek penglihatan saja tetapi juga pada cahayanya sendiri yang menjadi sumber cahaya tersebut. Dengan ini dapat dilihat cahaya sebagai intelek aktif yang menyebabkan intelek potensial menjadi objek-objek terlihat secara aktual. Intelek potensial menangkap cahaya sekaligus memahami intelek aktif. Al – Farabi menjadikan intelek aktif ini sebagai ruh yang suci atau jibril, malaikat pembawa wahyu dalam kajian teologi islam. Manusia menjadi seorang yang hakiki ketika intelek manusia dapat bersatu dan menyerupai intelek aktif.

Menurut Ibn Rusyd sumber pengetahuan bukan intelek aktif, melainkan pada realitas-realitas wujud inderawi (benda-benda yang nyata) maupun noninderawi (esensinya). Kedua wujud tersebut dapat melahirkan objek-objek yang sesuai dengan kajiannya. Dalam objek inderawi melahirkan objek ilmu fisika atau sains sedangkan objek noninderawi melahirkan objek rasional filsafat (hikmah). Dengan begitu Ibn Rusyd dapat dikategorikan sebagai tokoh empirisme yaitu tokoh filsafat yang berbasis pengalaman. Tetapi pemikiran Ibn Rusyd berbeda degan filsuf barat seperti John Locke yang menggambarkan jiwa atau rasio sebagai papan kosong atau kertas putih, begitu juga filsuf David Hume yang menganggap rasio sebagai deretan dari kesan-kesan alam indera, sedangkan menurut Ibn Rusyd jiwa atau rasio bukan seperti botol kosong yang siap di isi, tetapi juga menjadi jiwa yang aktif untuk mencari sebuah pengetahuan sehingga dapat dikatakan sebagai empirisme kritis. Tetapi dalam hal ini tidak semua realitas didasarkan pada rasio manusia, sebab rasio manusia mempunyai kelemahan dan keterbatasan. Sehingga Ibn Rusyd menambahkan wahyu yang menyebabkan munculnya ilmu-ilmu keagamaan.

Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tersebut? 

Manusia dapat memperoleh pengetahuan dengan cara berpikir yang rasionalisme (berdasarkan akal) dan berpikir empirisme (berdasarkan pengalaman atau fakta), sehingga dengan ini manusia dapat menemukan pedoman yang kuat untuk menemukan ilmu pengetahuan yang memiliki kerangka penjelasan yang masuk akal sekaligus mencerminkan materi dan metafisik. Metafisik merupakan aspek realitas yang sifatnya abstrak, tanpa bentuk, dan hanya bisa dipahami dengan metode deduksi atau penalaran logis. Adanya dua fenomena (akal dan pengalaman) yang mengikuti karakter akal secara sistematis dapat mengakui hukum hal – hal yang bersifat umum. Hal ini yang menjadi pertimbangan epistemologi dalam pengetahuan realitas metafisik, sehingga epistemologi islam dapat menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah tindakan akal untuk mengetahui sesuatu yang nyata melalui penilaian yang masuk akal dan menegaskan bahwa pengetahuan adalah realitas itu sendiri. 

Salah satu cara yang dapat kita gunakan agar terhubung dengan realitas metafisik adalah proses berfikir yang mengarahkan kita pada gerakan spesifik dari fakultas intelek atau proses berfikir agar mencapai esensi, yang paling utama harus ada dan dimulai yaitu kesadaran diri (l entre por soi) dengan eksistensi dirinya sendiri. Karena mnurut Jean Paul Sartre hidup manusia tidak ada yang membantu selain dirinya sendiri dan manusia di bebankan pada kebebasan untuk memilih tindakan yang di inginkan serta menanggung resiko dari apa yang sudah dipilih tersebut. 

Sisi material manusia diwujudkan dengan adanya lima indera yang bisa mengenali objek fisik melalui interaksi langsung, sedangkan daya intelek mentransformasikan menjadi objek nonfiisk sehingga sesuatu yang awalnya tidak diketahui menjadi diketahui, sedangkan hati mentransformasikan realitas fisik atau metafisik melalui kontak langsung dengan objek yang berada dalam jiwanya (Ietre en-soi).

Menurut Al-Farabi ilmu pengetahuan hanya diperoleh melalui metode-metode yang dapat dipertanggung jawabkan. Metode Al-Farabi dibagi menjadi dua yaitu melalui konsepsi langsung (Al – Thasawur) dan pembuktian atas kosep (Al- Tashdiq). Awalnya pengetahuan ini di peroleh dengan hal yang sangat sederhana, kemudian dari hal yang sangat sederhana tersebut melahirkan konsepsi yang tinggi, seperti jika seseorang ingin mengetahui sebuah balok, maka seseorang harus mengetahui bentuk sederhananya balok yaitu terbuat dari panjang dikali lebar dikali tinggi sehinnga dapat mempunyai volume dan terbentuk sebuah balok yang menjadi pengetahuan yang lebih tinggi.

Untuk pembuktian dari konsepsi (Al-Tashdiq) disebut sebagai silogisme yang berasal dari bahasa Yunani yaitu “Sullogismos” yang artinya mengumpulkan, sedangkan dalam bahasa arab diterjemahkan menjadi al-qiyas yang artinya dikembalikan pada asalnya yaitu mengumpulkan.  Menurut Al-Farabi Silogisme adalah suatu bentuk penalaran dimana dua proporsi yang disebut premis dirujukkan bersama sedemikian rupa sehingga menjadi konsklusi niscaya yang menyertainya.

Pandangan Ibn Rusyd tidak jauh berbeda dengan Al-Farabi yang mendasarkan metode dalam mencapai pengetahuan pada metode-metode yang dapat dipertanggungjawabkan  yaitu pada konsepsi secara langsung (Al-Thasawur) dan pembuktian atas konsepsi (Al-Tashdiq). Dalam hal ini Ibn Rusyd mengartikan konsepsi secara langsung (Al-Thasawur) menjadi sesuau yang membentuk konsepsi atas sebuah objek, baik objek materi maupun sejenisnya. Untuk mencapai sebuah objek material dapat diwujudkan dengan melewati tiga proses, yaitu:

1. Proses Absraksi merupakan proses yang mengungkapkan gagasan atas objek-objek yang ditangkap oleh indera, baik secara eksternal maupun internal. Menurut Ibn Rusyd objek ini harus mempunyai wujud, karena akal dapat berfungsi jika adanya wujud dari suatu objek yang ditangkap akal masuk pada jiwa sebagai konsep awal. Prose abstraksi ini harus merujuk pada 10 kategori yang disampaikan oleh Aristoteles, yaitu : 1) substansi, 2) kuantitas, 3) kualitas, 4) relasi, 5) tempat, 6) waktu, 7) posisi, 8) milik, 9) tindakan, 10) pengaruh.

2. Kombinasi yaitu memadukan antara dua atau lebih dari hasil abstraksi – abstraksi indera yang menjadi sebuah konsep yang utuh dan universal. Dalam hal ini menurut Ibn Rusyd harus mempertimbangkan 5 kriteria, yaitu : 1) spesies, 2) genus, 3) perbedaan , 4) kekhususan, 5) bentuk.

3. Penilaian yaitu proses yang dilakukan ketika konsep yang dihasilkan benar atau salah.

Kemudian untuk metode pembuktian atas konsep (Al –Thasdid) dapat diaksanakan dengan cara – cara tertentu yang dibagi menjadi 3 bentuk pembuktian, yaitu silogisme demonstratif, silogisme dialektis, dan demonstrasi retoris. Secara umum silogisme terdiri dari 3 unsur yaitu 1) subjek, 2) objek, 3) relasi. Dalam hal ini dapat disimpulkan menurut Aristoteles bahwa silogisme harus memenuhi syarat tertentu yang ditulis pada buku Jabiri yaitu: 

1. Mengetahui latar belakang dalam penyususnan premis

2. Adanya konsistensi logis antara alasan dan kesimpulan

3. Kesimpulan harus bersifat pasti dan benar, sehingga tidak ada sumber lain yang menyataka kebenaran dan kepastian.

Bagaimana Cara Mewujudkan Epistemologi Islam?

Agar dapat mewujudkan bahwa epistemologi islam juga melibatkan pengetahuan berbasis akal, maka diuji menggunakan 2 metode yaitu dengan Demonstratif (Burhani) dan Pengalaman langsung (Irfani)

1. Metode Demonstratif (Burhani) 

Yaitu metode yang sepenuhnya menekankan pada kemampuan intelektual baik melalui panca indera, pengalaman, maupun daya rasional dalam memperoleh pengetahuan alam yang digunakan dalam menghasilkan kebenaran bersifat populatif. Metode ini disandarkan kekuatan, rasio, akal, yang didasarkan pada dalil - dalil logika. Hal ini yang membedakan antara epistemologi islam dengan epistemologi barat. Epistemologi islam memberikan ruang untuk akal agar dapat menemukan berbagai pengetahuan, bahkan isu – isu agama yang kompleks, seperti kajian tentang konsep takdir dan kaidah mengenai kebaikan dan keburukan. Semua yang didasarkan pada panca indra, akal adan pengetahuan ini dibukikan secara empiris, tetapi hal ini tidak terjadi pada epistemologi barat yang hanya berdasarkan pada rasionalisme atau akal murni, tidak dibuktikan dengan fakta empirisme. 

2. Metode Pengalaman langsung (Irfani)

Yaitu metode yang berdasarkan pengalaman yang diperoleh melalui rasionalitas (aql) atau pengetahuan yang diperoleh dari penembusan rohani (Mukhasyafah). Kebenaran metode Irfani ini dapat di temukan pada subjek (orang yang melakukan) dan partisipatif. Pengaplikasian metode irfani dalam islam yaitu terhapusnya jarak antara agama pada tingkat substantif dengan esensi spiritual, yang artinya orang tersebut sangat dekat dengan Tuhan tanpa ada keraguan yang ada pada hatinya, penerapannya juga dapat berupa cara kita menghargai agama  lain dalam hal saling menghormati dan menjunjung tinggi Tuhannya masing-masing.

Apa Kegunaan Epistemologi Islam dalam Pendidikan?

Epistemologi dapat digunakan sebagai filter bagi objek pengetahuan dan juga cara menemukan arah pemikiran manusia. Pada dasarnya epistemologi merupakan perpaduan antara rasionalisme dam empirisme. Epistemologi membawa pengaruh sangat besar terhadap dunia pendidikan maupun dalam kemajuan teknologi sehingga epistemologi mempunyai kaitan yang sangat erat dengan pandangan dunia. Sehingga bisa dikatakan bahwa keduanya saling menguntungkan satu sama lain. Sedangkan Aliran barat seperti Rasionalisme, empirisme, positivisme, dan sejenisnya memisahkan antara subjek dan objek yang di amati. Secara tidak langsung epistemologi barat ini meninggalkan jiwa berada diluar pengamat dengan hanya mempercayai apa yang telah ia amati dan lakukan (pengalaman) dengan tetap memisahkan realitas subjek dan objek pengtahuan. Dengan ini epistemology barat mengesampingkan jiwa serta realitas yang ada, ia hanya berpedoman pada rasionalisme.

Sedangkan epistemologi islam tidak hanya berdasar pada empiris dan rasionalis saja tetapi sampai pada hal yang mendasari cara mencapai sebuah pengetahuan. Secara tidak langsung epistemologi islam tidak dapat dipisahkan antara nilai dan moralitas manusia, sebab hal ini menjadi jalan bagi manusia untuk memperoleh kesadaran. Oleh sebab itu proses pendidikan harus mempertimbangkan pengelolaan jiwa karena dalam penerapanya pendidikan sendiri dijadikan sebagai tempat untuk mentransformasikan jiwa manusia dengan keputusan yang berkonsekuensi etis sebagai tanda dari perubahan yang mendasar pada manusia.

Konsekuensi dari epistemologi islam adalah aktifitas yang berhubungan dengan proses mencapai pengetahuan yang harus mempertimbangkan antara elemen pendidikan berupa metode dan bahan ajar potensi yang terkandung dalam jiwa manusia. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah kesempurnaan jiwa yang bersatu dengan realitas yang absolut yaitu Tuhan.

 Kesimpulan

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi para pemuda, orang yang mempelajari filsafat tidak menjadikannya kafir. Justru dengan berfilsafat manusia dapat menemukan rasionalisme dan empirisme pada dirinya. Selain itu manusia juga berperan dalam menentukan pengetahaun, tidak hanya seperti botol kosong yang siap untuk di isi ilmu. Cabang filsafat yaitu epistemologi islam dalam pendidikan sangat dibutuhkan sebagai cara yang digunakan untuk menyatukan antara jiwa manusia dengan realitas yang absolut yaitu Tuhan. 

Referensi

Biiznillah (2019), Relevansi Epitemologi Islam dalam Pendidikan “Refleksi Pemikiran Ayatullah Muhammad Taqi Mizbah Yazdi dalam Philosophical Instriction”, Jurnal Aghinya STIESNU Bengkulu.

A Khudori Soleh dan Fathul Lubabin Nuqul, Epistemologi Pemikiran Islam.

Wira Hadi Kusuma (2018), Epistemologi Bayani, Irfani, dan Burhani Al-Jabiri dan Relevansinya bagi Studi Agama Untuk Resolusi Konflik dan Peacebuilding.

Ruang lingkup kimia

 Mari kita berkenalan dengan ilmu kimia😊      Ilmu kimia merupakan imu yang kita butuhkan dalam menangani suatu hal, bahkan dalam kehidupan...